Cari Di Blog Ini

Memuat...

Senin, 25 Januari 2010

BERBAGAI FAKTOR PENGHANCUR (Fitnah)

Hasan Blog Area

Para pendahulu kita merasa kasihan kepada ahlul fitnah, lalu memperingatkan mereka dari bahaya buruk yang akan menimpa mereka. Hudzaifah bin al-Yaman berkata:

“Jauhilah berbagai fitnah. Janganlah sampai ada orang yang terlibat didalamnya. Demi 4wi pasti akan dihancurkanya, seperti banjir yang menghancurkan tanah humus”.

Qatadah bin Da’amah, seorang tokoh tabi’in, menggambarkan kepada kita pengalaman fitnah yang pernah disaksikanya. Ia menggambarkan berbagai akibatnya:

“Demi 4wi, saya sudah menyaksikan beberapa kelompok orang yang senang dan bersegera kepada fitnah. Sebagian orang menahan diri darinya karena takut kepada 4wi swt. Bila fitnah itu telah berlalu, maka terlihatlah bahwa orang-orang yang menahan diri itu menjadi lebih bersih jiwanya, lebih sejuk hatinya, dan lebih mudah berbuat baik dari pada orang-orang yang bersegera kepada fitnah. Amal perbuatan mereka menjadi kebencian bagi hati mereka setiap kali mereka menyebutnya. Demi 4wi, sekiranya manusia mengetahui bahaya ketika fitnah datang sebagaimana pengetahuan mereka ketika fitnah berlalu, niscaya kebanyakan generasi akan dapat memahaminya dengan pikiran yang jernih dan lurus ”.

Demi 4wi, kita sudah menyaksikan apa yang pernah disaksikan oleh Qatadah. Kita sudah menyaksikan sebagian orang yang terlibat dalam fitnah, lalu hati mereka serasa teriris dan tubuh mereka serasa hancur, setiap kali mereka mengingat kemuliaan yang pernah mereka nikmati dan akibat yang terjadi setelah fitnah itu.

Tidak ada yang bisa selamat dari fitnah kecuali pemimpin yang memiliki akhlaq kepemimpinan, yang penyabar dan suka bertobat. Karena bisa jadi ia tertipu oleh hiasan tipu daya yang dibuat oleh para pembuat fitnah. Akan tetapi ia cepat kembali kepada kesadaran dan kebenaran. Ia adalah salah satu dari tiga orang disebutkan oleh Qatadah, ketika ia berkata:

“Sesungguhnya fitnah itu diperberat dengan tiga orang. Pertama: Oleh jago pedang yang akan menebas leher semua yang bangkit dan menentang pihaknya, kedua: oleh orator ulung (ahli pidato) yang menyeru kepada fitnah itu, dan yang ketiga oleh orang alim. Adapun jago pedang dan orator, maka fitnah itu akan membuat keduanya terkapar karena diri mereka sendiri. Sedangkan orang alim, maka fitnah itu terus melacaknya sehingga terlihat apa-apa yang sebenarnya ada dihatinya”.

Jago pedang tidak akan punya harapan untuk selamat. Ahli pidato sama juga dengan ahli pedang, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, bahwa lidahnya adalah pedangnya.

Kecuali ulama, karena fitnah itu adalah ujian baginya. Jika sifat kepemimpinanya yang dominan, maka ia akan selamat, akan tetapi bila sedikit, maka bisa jadi ia akan tersadar pada awal fitnah dan kadangkala ketika fitnah itu berlangsung, dan kadangkala ia tersadar ketika fitnah akan berakhir, sesuai dengan kadar ketinggian pribadinya dan kedalaman ilmunya.

“Sesungguhnya apabila bencana fitnah sudah dating menjelang, maka ia akan dapat diketahui oleh setiap orang yang berilmu, sedangkan apabila ia sudah berakhir, maka ia akan diketahui oleh semua orang jahil", Sebagaimana dikatakan oleh Hasan al Bashri, pembesar para tabi’in. Apa bila seseorang itu sudah sempurna maka ia akan dapat melihat kedatangan fitnah dan akibat-akibat yang akan dibawanya, seakan-akan ia telah merobek tabir gaib. Akan tetapi ia akan terlambat mengetahui akibat bahayanya apabila ilmunya lebih sedikit. Apabila bencana fitnah itu sudah berakhir, maka semua orang dapat menyaksikanya , karena ia sudah dapat dilihat dengan mata telanjang bukan dengan mata hati, bahkan ia juga dapat dilihat oleh yang tidak berilmu sekalipun. Pada kondisi seperti ini, tidak ada hal yang dapat menyelamatkannya kecuali tobat nasuha yang sungguh-sungguh, yang menjauhkan diri dari fitnah yang akan dating pada masa berikutnya. Setiap orang harus membekali diri dengan ilmu dan taqwa, dengan dalil yang jelas dalam menapaki jalan yang lurus, lalu berjala seseuai sistem, perencanaan dan tata kehidupan Jama’ah.

KETIKA NODA HITAM TELAH MENYEBAR DIHATI

Hasan Blog Area

Hadits Nabi SAW menjelaskan berbagai perumpamaan yang dubuat 4wi untuk manusia. Dijelaskan bahwa ia adalah masalah “kesiapan” sebagian jiwa manusia untuk menerima fitnah. Adapula manusia yang enggan terhadap hidayah sehingga 4wi menyesatkanya. Siapa yang menolak hidayah sejak dari awal maka ia akan menolaknya hingga akhir. Siapa yang menerima fitnah sejak dari awal, maka pada hatinya akan terukir noda hitam yang akan selalu meluas sehingga hati tersebut menjadi hitam sama sekali. Sebagaimana diriwayatkan Muslim, dalam hadits shahih dari Hudzaifah bin Yaman ra, ia berkata Aku mendengar Rosulullah saw bersabda:

“Berbagai fitnah akan dibentangkan kepada hati seperti anyaman tikar, satu benang demisatu benang. Hati mana saja yang berhasil dirasuki fitnah itu, maka ia akan menjadi titik hitam, sedangkan hati mana saja yang menolaknya, maka ia akan menjadi titik putih. Sehingga hati itu terbagi dua, hati putih seperti batu karang, yang tidak akan goyah oleh fitnah apapun selama langit dan bumi masih tegak. Sedangkan yang lainya hati hitam seperti warna yang sangat putih terletak dalam warna hitam, ia seperti panic yang terbalik, ia tidak mengenal kemakrufan dan tidak pula menolak kemungkaran, kecuali apa-apa yang bersesuaian dengan keinginan hawa nafsunya”.

Bisa jadi, hati memiliki kesiapan menerima fitnah, akan tetapi pada kondisi lapang dan nyaman, ia tidak terlihat, sedangkan ketika masalah-masalah syubhat menyertainya dan goncangan lain ikut pula menerpanya, maka fitnah kesesatan tersebut akan terbuka dan terlihat masuk pada dirinya.

Para ulama mengumpamakan hal ini dengan seorang yang berpenyakit dada. Bila cuaca sedang jernih dan baik maka pernapasanya lancer dan bagus. Namun bila angin dating seraya menghembuskan debu, maka ia akan terengah-engah. Nafasnya sesak seakan-akan tercekik . Atau keadaannya seperti kolam yang tenang airnya sedangkan didasarnya terdapat endapan lumpur, lalu dilemparkan sebuah batu kecil kedalamnya, maka kolam itu terlihat keruh, padahal anda mengiranya jernih. Sedangkan kolam yang benar-benar bersih , bila ada batu yang dilemparkan kedalamnya akan membuat kolam itu terlihat semakin indah, karena akan menimbulkan gelembung-gelembung bulat seperti bayangan dahan-dahan hijau.

Perhatikanlah pengaruh batu fitnah yang jatuh kedalam hati. Ia telah mengendalikannya. Janganlah Anda tertipu oleh permukaan air tenang yang mengelabui. Janganlah Anda menolak gambaran orang yang terkena fitnah bagaikan panic yang terbalik. Karena betapa banyak orang yang pada mulanya baik namun akhirnya ia mati dalam keadaan meninggalkan shalat.

AWAL FITNAH ADALAH TA’WIL (INTERPRETASI)

Hasan Blog Area

Pandangan hati ibarat pandangan mata. Terkadang ada mata yang dapat melihat jauh, sedangkan mata lainya tidak dapat melihat hanya karena kabut tipis atau debu ringan, apalagi dalam kegelapan.

Kekuatan mata hati berasal dari kekuatan pemahaman (ilmu) dan tantulan iman. Apabila hal-hal yang diperselisihkan dalam kebijakan dakwah (siyasatud-da’wah) tidak mempunyai sandaran nash yang jelas, maka kita harus kembali bersandar pada qawa’id amah (kaidah-kaidah umum) kaidah jalbul mashalih (mengupayakan kemaslahatan), prinsip saddul mafasid (menolak kerusakan) dan menutup pintu-pintu syubhat. Dalam kondisi seperti ini, usaha menghasilkan hukum fiqh (istinbath al-ahkam) akan menjadi semakin sulit, bahkan pemberian fatwa halal-haram, atau sunnah dan makruh akan menjadi lebih sulit, karena masalah ta’wil (interpretasi) mempunyai ruang lingkup yang luas pada kondisi seperti ini.

Apabila kita perhatikan para ahli fiqh abad pertama hijriyah, maka kita akan menemukan bahwa mereka sangat berhati-hati dalam masalah-masalah yang berkaitan erat dengan kebijaksanaan penerapan hokum pada umat ini (siyasah syar’iyah). Namun demikian, ada pendapat aneh yang tidak disetujui oleh mayoritas ulama. Jika hal ini terjadi pada mereka, kaum salaf, apalagi dengan diri kita yang hidup pada zaman terakhir ini?

Setelah mengkaji fiqh kaum salaf dengan seksama, imam Hasan al-Banna kemudian meletakan prinsip-prinsip dasar yang dapat dijadikan sebagai pijakan dakwah, tingkatan-tingkatanya, dan pemahaman-pemahaman umum yang membatasi konsep berfikir dan metode-metode penyampaian.

Para generasi awal Ikhwanul Muslimun yang hidup bersama beliau berpegang teguh dengan semua prinsip dasar yang beliau letakan dengan arahan beliau sendiri:mereka memperpanjang periode tarbiyah, memurnikan da’wah hanya diatas dasar aqidah saja dan berhati-hatio agar tidak terjatuh dalam hegemoni para penguasa. Akan tetapi sebagian orang mulai masuk dalam masalah ta’wil secara berangsur-angsur. Mereka mulai bergeser dari tarbiyah yang sangat mendasar dan sudah dikenal itu kepada isti’jal (sifat terburu-buru) yang memaksa mereka menganggap enteng masalah tautsiq ar-rijal (penilaian aspek kelayakan moral seseorang). Berbagai ta’wil itu menjauhkan mereka dari inti da’wah yang sudah dikenal, sebagaimana telah menjauhkan kaum salaf pada masa awal Islam dari inti ajaran Islam, sekalipun sikap wara’ masih sangat dominan pada masa itu.

Sebagaimana kita menyaksikan adanya pembelaan setiap ahli ta’wil kepada ta’wilnya ketika menghadapi penolakan mayoritas tabi’in dan ahli fiqh, lalu muncul aliran Qadariyah, Jahmiyah, Mu’tazilah, Murji’ah, dan Khawarij. Demikian pula pada zaman kita ini, kita melihat bias-bias para ahli ta’wil sehingga muncul pemahaman aneh yang atas nama kemaslahatan da’wah membolehkan prilaku bermuka masam (tajahhum fil wajhi), bermulut kasar (tahajjum fil lisan), meninggalkan amal (I’tizal lil amal), keluar dari bai’at (khuruj ‘anil bai’ah), sedangkan mereka tidak mengerti bahwa semua hal itu bukanlah hal baru.

Ref: al-awaiq, M ahmad arrasyid

Letak Pengunjung