Laman

Cari Di Blog Ini

Memuat...

Senin, 07 Desember 2009

Menjauhi NAJWA (Majelis Rahasia)

Hasan Blog Area

Seorang yang adil dan bijak pada dirinya sendiri pasti akan mencari hal-hal yang akan menambah keimananya kepada 4wi (duduk bersama ulama, ust, ahli ilmu, orang-orang soleh), menghadiri majlis pengajian, rihlah/tafakur alam, berkhalwat bersama 4wi swt. Ia merasa senang dimana bergaul dengan siapa saja yang ia sukai dari anggota jama'ah iman, atau meneladani perbuatan hamba-hamba 4wi yang soleh yang diriwayatkan kepadanya.

Sedangkan orang yang terancam kesesatan pasti akan duduk bersama teman-teman semisal dirinya, menghindari pantauan dan menyembunyikan rahasianya (uneg-unegnya) dari jama'ah. Kemudian menyebarkanya kepada orang yang menyukainya, lalu saling menguatkan rasa ego dan fanatisme sehingga tumbuh dendam, kemarahan, patah semangat, dan justifikasi kesesatan. Dengan jalan seperti ini, ia tidak terbebas dari pengelabuan. Bahkan yang terjadi adalah fitnah.

Oleh karena itu, Umar bin Abdul Aziz berkata:
"Setiap kelompok yang berbisik dalam urusan agama mereka diluar jama'ah mereka, maka sesungguhnya mereka tengah membangun suatu kesesatan".

Itulah permulaan dari setiap bid'ah yang terjadi dalam sejarah kaum Muslimin. Berawal dari bisik-bisik (najwa), lalu menjadi istidraj.

Oleh karena itu, najwa (majelis rahasia yang terpisah dari jama'ah) tentang berbagai pemahaman yang merupakan bagian dari agama, atau tentang melepas ketaatan yang syar'i yang juga merupakan bagian dari agama, yang karena sebab inilah kaum khawarij yang melepas ketaatan itu sebagai bid'ah, bersama dengan kelompok murjiah dan jahmiyah, semua itu adalah kesesatan dan termasuk dalam perkataan umar bin abdul aziz diatas.

Diantara tabi'at najwa adalah bahwa ia tidak bisa dirubah oleh niat yang tulus, tidak dapat membawa hasil untuk perbaikan dan tidak dapat dinyatakan sebagai hasil ijtihad yang legal, karena suatu ijtihad tidak boleh dilakukan secara sembunyi.

Berbagai pengalaman sudah membuktikan kepada kita bahwa sebagian besar perbuatan najwa meyebabkan pembangkangan dan pelanggaran bai'at. Najwa tidak lebih dan tidak kurang adalah periode pertama bagi penempuh jalan fitnah! Baik ia menyadari hal itu atau tidak. Alasan yang dikemukakan pelaku najwa sama dengan alasan pelaku pembangkangan itu sendiri! Mereka sama-sama mengaku menginginkan kebaikan Islam, bahkan mereka mengaku sedang melakukan salah satu bentuk ibadah, padahal mereka tengah terbelit kesalahan.

Penjelasan Sayid Quthb dalam tafsirnya Fi Zhilal al-Qur'an dalam masalah najwa yang tercela ia berpendapat bahwa 4wi swt tidak hanya mencela najwa pada zaman Rasulullah saw saja, akan tetapi juga berlanjut sampai zaman kita.

4wi berfirman:
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan perbuatan najwa mereka (bisikan-bisikan kelompok mereka yang terpisah), kecuali dari bisikan-bisikan orang yang menyuruh manusia memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan 4wi, maka kelak kami akan memberi padanya balasan pahala yang besar".(an-Nisa', ayat 114)

Sayid Quthb berkata menjelaskan ayat ini:
Larangan melakukan najwa dalam al-Qur'an muncul berkali-kali. Najwa yaitu berkumpulnya suatu kelompok umat jauh dari jama'ah Islam atau dari kepemimpinan umat Islam untuk merancang suatu perkara secara rahasia. Padahal kebijakan tarbiyah islamiyah dan tanzhim Islami yang dilaksanakan pada masa Nabi Muhammad saw dalam menyelesaikan suatu masalah yang meragukan adalah dengan cara: Seorang Muslim datang kepada Nabi saw dengan membawa permasalahanya, jika permasalahan itu berupa urusan pribadi yang tidak ingin disebarluaskan dihadapan orang banyak maka ia menyampaikanya kepada Nabi saw secara tertutup. Jika menyangkut permasalahan orang banyak yang tidak menyangkut urusan pribadi orang tersebut, maka ia menyampaikannya kepada Nabi saw secara terbuka.



Ref. Al-Awaiq (Muhammad ahmad ar-Rasyid-Seri Fiqh Dakwah)

0 komentar:

Poskan Komentar

Recent Posts