Laman

Cari Di Blog Ini

Memuat...

Jumat, 17 Juni 2011

Dakwah Ilallah dan Da'inya

Hasan Blog Area


Tidak ada kalimat yang lebih indah daripada menyeru kepada Allah;

“Dan siapakah yang lebih baik perkataaanya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?’”(Fushshilat[41]:33)

Tidak ada orang yang lebih kuat dibandingkan dengan orang yang membawa risalah Allah untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Mahabenar Allah,

“(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-nya dan tidak merasa takut kepada siapapun selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan.” (Al-Ahzab[33]:39)

Mereka adalah orang-orang yang dipilih dan diutamakan diatas manusia seluruh alam. Allah berfirman,

“Allah memilih para utusan(-nya) dari malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya, Allah maha mendengar maha melihat.”(al-Hajj[22]:75)
“Sesungguhnya, Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (dimasa masing-masing)”(Ali Imran[3]:33)
“Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih diantara hamba-hamba kami...”(Fathir[35]:32)
“Dan ingatlah hamba-hamba kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’kub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu (yang tinggi). Sungguh, kami telah mensucikan mereka dengan (Menganugrahkan) akhlak yang tinggi kepadanya yaitu selalu mengingatkan (Manusia) kepada negeri akhirat. Dan Sungguh, disisi kami mereka termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (Shad[38]:45-47)

Kemuliaan ucapan tergantung pada kemuliaan yang diucapkan. Secara khusus, ucapan itu dianggap indah karena membawa dakwah yang paling mulia, menyampaikan petunjuk paling utama; dakwah yang mendapatkan kemuliaan intisab(melekat) kepada Allah Subhanahu wa ta’ala; hidayah yang bebas dari kesalahan, noda, dan pembelokan,

“...Jika datang kepadamu petunjuk daripadaku, maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjukku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha[20]:123)

Pemilihan dan seleksi para da’i didasarkan pada sikap rabbaniyahnya, kemampuan dan kecermatanya mengemban amanah, dan kesabaranya dalam menyampaikan risalah,

“Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan diantara mereka ada yang gugur, dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah (janjinya).” (al-Ahzab[33]:23)

Allah subhanahu wa ta‘ala telah memilih Muhammad Shlallahu ‘alaihi wa sallam untuk membawa dakwah terbesar, petunjuk yang paling bersih, risalah yang paling lengkap, kitab paling abadi, dan syariat paling kekal ini. Allah telah memilih umat-nya untuk menyampaikan kitab yang paling suci, menerangkan jalan yang paling lurus, dan mengajarkan sasaran paling agung serta tujuan paling tinggi . Allah berfirman,

“Katakanlah (Muhammad), ‘inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.’” (Yusuf[12]:108)

Dengan dasar itu, Umat islam hari ini wajib untuk segera mengemban amanah ini, menyampaikan risalah, meninggikanya pada posisinya, memenuhi cakrawala, menampakan matahari kebenaran agar gelapnya kebatilan dan kesesatan segera sirna. Bila ini terjadi berguguranlah senandung setan  dan golonganya, kesesatan para pembual dan dustanya. Manusia hari ini kaum muslimin secara khusus sangat membutuhkan cahaya kebenaran, pancaran iman, sejuknya keyakinan sehingga mereka dapat berjaya, mulia, bahagia, dan aman. Mahabenar Allah yang telah berfirman,

“Sungguh al-Qur’an ini memberi petunjuk ke(jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar.” (al-Isra’[17]:9)

Hari ini, kitab suci kita telah memberikanpanduan langkah dijalan dakwah, memberi cahaya untuk kita dalam memikul tugas mulia ini, yang telah Allah khususkan bagi umat Muhammad Shlallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana ia telah menerangkan sebagian dari tanjakan dan biaya yang harus dibayar. Kitab ini juga telah menerangkan metode dakwah yang harus diikuti dan dilalui agar seorang da’i senantiasa berdzikir dan berfikir, paham, dan bijak.

Kita memohon kepada Allah agar senantiasa menolong para aktivis dakwah yang ikhlas dalam menuju tempat terbaik yang dicintai dan diridhainya. Amin.

Dr. Taufik al- Wa’iy
(Dikutip dari mukadimah buku Dakwah Ilallah)

Sengaja saya mengutip mukadimah buku yang berjudul Dakwah Ilallah, karya Dr. Taufik al-Wa’iy dengan harapan dapat dibaca serta diambil nilai-nilai pesan yang ada didalamnya serta mudah-mudahan dapat memotivasi para da’i yg tengah berjuang dan para da’i yang tengah setapak demi setapat menjauh dari dakwah agar mengurungkan niat serta tersadarkan akan pentingnya dakwah dalam kehidupanya yang tidaklah pantas bagi kita yang mengatakan setiap harinya “Hanya kepadamulah kami menyembah, dan hanya kepamulah kami meminta pertolongan” dan yang senantiasa memohon kepadanya dengan do’a setiap hari “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.

Pantaskah? Setiap hari kita berjanji untuk hanya menyembah dan meminta tolong kepada Allah dan setiap hari pula kita yang terus meminta kepada Allah untuk diberi petunjuk menuju jalan yang lurus (jalan yang Allah ridhoi) dengan doa itu agar kita tidak masuk kejalan yang dimurkai dan sesat. Lantas ditengah jalan, tiba-tiba kita setapak demi setapak menjauh dari dakwah, dahulu kita begitu semangat namun sekarang biasa-biasa saja, dahulu kita rasakan keletihan dalam dakwah sekarang letih itu telah berubah, letih oleh hiruk pikuk dunia, bahkan dahulu kita tidak bisa tidur karena memikirkan beban serta tanggung jawab dakwah yang kita pikul tapi sekarang kita tidak bisa tidur karena memikirkan problem-problem kehidupan pribadi kita. Dahulu kita Semangat sekarang biasa-biasa saja, bagaimana ini? Bukankah bertambahnya umur, pengalaman serta ilmu seharusnya menjadikan kita semakin kokoh dan mantap dalam mengarungi jalan dakwah ini. Apakah waktu yang terus berlalu tengah menggerus komitmen dakwah kita? Pemahaman kita? Serta memalingkan kita dari dakwah yang mulia ini menuju indahnya dunia dipandangan kita? Ya Rabb... Tolonglah aku dari pesona dunia yang merayuku tuk lalai terhadapmu... Ya Allah... Jangan biarkan aku barang setapak pun untuk menjauh darimu hanya karena aku menginginkan sesuatu dari selainmu... Jadikanlah aku tetap setia terhadapmu walaupun semua harapan, mimpi dan cita-citaku tak kudapatkan didunia ini, asalkan engkau tetap disisiku menjagaku, menunjukiku serta menyayangiku sehingga aku dapat hidup dengan rahmat dan cintamu dan engkau hadirkan dalam hatiku segunung cinta dan sesamudra kerinduan sehingga aku engkau bebaskan dari penyakit Cinta Dunia dan Takut akan kematian, Kalau aku boleh bermohon, takdirkan aku ya Allah seperti hambamu yang telah engkau beri nikmat namun ia meminta dihidupkan kembali didunia agar bisa meninggal kembali seperti kematianya sebelumnya. Amien.

Bagaimana pandangan kita terhadap orang yang setiap hari berjanji kepada kita dengan mengulang kalimat janji yang sama setiap harinya kemudia ia lupa, lupa terhadap janjinya sehingga ia tak mampu mengupayakan untuk menunaikanya? Pembual, pembohong serta penipu... itulah kata yang mungkin terlintas dalam benak kita, Lalu bagaimana jika janji itu tertuju terhada Allah? Bagaimana kedudukan orang itu dihadapanya yang setiap hari membual, berbohong serta menipunya...? Lalu bagaimana dengan kita?

Apakah kesibukan kita dalam menuntut ilmu dunia telah menyita waktu serta tenaga kita untuk dakwah?
Apakah hiruk pikuknya pekerjaan kita telah menjauhkan serta melupakan kita terhadap amal-amal dakwah kita?
Apakah indahnya berkeluarga telah memalingkan kita dari dakwah dan keutamaanya?
Apakah keturunan yang Allah karuniakan telah menggantikan dakwah dalam tujuan hidup kita?
Apakah Semua harta yang diraih dan kumpulkan telah menjauhkan kita darinya?
Entahlah...

Semoga saja seluruh hari-hariku dapat menjawabnya dengan berkata tidak. Semua pertanyaan itu terjawab dengan realitas hidup kita. dengan jawaban yang mantab bahwa semua itu tidak sama sekali menghambatku serta menahanku dalam dakwah justru denganya dakwahku semakin kokoh, mantab dan penuh dengan semangat serta penuh ambisi untuk mengejarnya hingga penghujung hidupku aku masih sibuk denganya. Dakwah.....!!!

Adakah jalan yang lurus yang didalamnya tidak ada tuntutan dakwah ilallah? Kalau ada tunjukanah!

 

1 komentar:

  1. Subhanallah..Allahu Akbar.
    Mantap San...Ayo Semangat!!

    BalasHapus

Recent Posts