Laman

Cari Di Blog Ini

Memuat...

Kamis, 22 September 2011

Catatan Perjalanan Jomblo Journey Road to Tasikmalaya (2)

Hasan Blog Area

 Road To at-Ta’awun

Setelah jenuh menunggu sedari jam 22:00 akhirnya kamipun memulai perjalanan kami, Jomblo Journey Road to Tasikmalaya dimulai, Lets to the triiip, make be enjoy lets Gooooooooooooo....

Tak lupa sebelum berangkat ritual ala depok narsisme pun tak ketinggalan yaitu jeprat-jepret/foto-foto dengan formasi motor berjajar, aku pribadi cukup tahu saja atas kelakuan mereka, yah cukup tau aja he...

Depok-Cibinong-Bogor-Ciawi-Cisarua-At-Ta’wun, rute itulah yang kami lalui dengan formasi yang sudah disepakati sebelumnya yaitu yang terdepan akh Andry diikuti dibelakangnya Ade, Indra, afrijal, Fikri, Vicko dan Azis itulah para rider ke at-Ta’wun. akh andry membonceng pathun, Afrijal membonceng akh Budi dan Aziz membonceng Ane (hasan) sisanya yaitu Ade, Indra dan Vicko sebagai single rider. Selama perjalanan menuju at-Ta’awun alhamdulillah tak ada halangan serta rintangan yang berarti selain dari curahan rahmat dari Allah sebagai pengiring perjalanan kami yaitu guyuran hujan yang membuat perjalanan kami semakin ramai, seramai suara tetesan langit yang menghujam ke jas hujan yang kami kenakan. Sepertinya Tuhan masih menyayangi kami para jomblo/bujangan yang menyendiri ditengah ramainya kehidupan yang mencoba mencari kesenangan dijalanan ditengah kekosongan hati kami dari siraman kasih dari mereka yang diciptakan dari rusuk yang membengkok, Terima kasih Tuhan Semoga perjalanan ini mampu menempa kematangan hati kami untuk menampung bidadari yang akan kau semayamkan nanti dihati kami, siapapun itu semoga ia menjadi penyenang hati kami ditengah kegalauan serta kebimbangan hidup karena dunia begitu naif yang menampung para muda mudi dengan begitu congkaknya, bagaimana tidak? coba tengok para jomblo yang mencari jalan keluar dengan mengingkari pernikahan demi mengais kenikmatan ditengah gelapnya malam serta ditengah suasana sepi yang memabukan. Hanya sedikit para Jomblo yang tetap setia menjaga harga dirinya sampai nanti yang menanti berhasil ditemui dalam lantunan janji yang mengokohkan sekokoh janji Allah dengan Rosulnya. Duh mulai kebawa suasana neh jadi keluar topik deh, sepertinya sudah terlalu jauh menyimpang dari tema tulisan ini, intinya just be fun n make be Strong with a pray to Allah para kesatria Jomblo. Terus berjuang.... Semangaaaaaaaaaaaaat....Just Do its... dont be long time angel your heart wait you  (maaf klo bahasa inggrisnya salah gramer, maklum bukan orang inggris tapi wong Bejo alias betawi jowo he...)

Kembali ke topik Jomblo Journey Road to Tasikmalaya, seperti yang aku katakan tadi, selama kami menyusuri jalan sepanjang depok-puncak, alhamdulillah tidak ada masalah namun ada moment yang lucu yaitu perihal kondisi seorang rider kami yaitu akh Afrijal, di tengah jalan yaitu di jalan raya cisarua persis di jalur setelah melewati ciawi dijalur tanjakan yang panjang sepertinya motornya akh afrijal kesulitan untuk menanjak yang akhirnya ia sempat tesendat motornya beberapa kali khususnya ketika akan mengoper gigi mesin, membuat para rider dibelakanya serta para pengendara lain agak aneh melihatnya mungkin beberapa orang berpikir ‘neh orang bisa naik motor ga seh?, baru bisa naik motor aja belagu pergi ke puncak dasar aneh...’ itu hanya tebakanku karena aku lihat beberapa orang sempat menggelengkan kepalanya, tahu tidak sebenarnya motornya akh afrijal kesulitan menanjak karena kelelahan serta keberatan harus menanggung berat badan afrijal ditambah akh Budi he... mungkin klo coba kita kira-kira jumlah total berat mereka berdua kisaran 150 kg. Duh beratnya ha... kasihan yah motornya sampe-sampe harus terengah-engah dijalan dasar tak berprikemotoran neh afrijal ha...., padahal sedari rumah pathun aku sudah menasihatinya untuk tidak membonceng akh Budi agar ia sendiri saja menaiki motornya tetapi nasihatku ia anggap ejekan akibatnya ya gitu deh.

Akhirnya karena tanjakan masih panjang dan begitu lamban motornya berjalan, maka akh Budi dipindahkan ke akh Ade. Temon-temon eh maksudnya Afrijal-afrijal makanya dengerin nasihat orang sok hebat seh pake ngebonceng orang ditambah bawa sekardus kornet lagi padahal motornya ga kuku.....jangan diulangi yah jadilah orang yang penyayang kepada kuda besinya asal jangan kelebihan sayangnya kayak akh indra sampe-sampe kerenya motornya ngalahin dirinya, sampai-sampai rela mengeringkan kantong demi si motor kesayanganya padahal dia belum walimah-walimah juga, aduh... neh kayanya jomblo yang satu ini mesti di uji kelayakan atas setatus jomblonya, jangan sampe jabatan jomblo dijadikan jalan hidupnya karena jomblo sejati adalah mereka yang terus berjuang menuju ujung jalan raya jomblo untuk berbelok ke jalan pelaminan dengan terus mencari sesuatu yang bisa menghibur dan menyenangkan hatinya agar hati terus bersinar dengan penuh harapan untuk menatap masa depan yang masih tertutup tabir gaib kehidupan, bukanya menjadikanya ideologi yang harus dipegang sampai tubuh mengejang dan Rohpun melayang, mang mau meninggal tanpa meninggalkan jejak keturunan atau paling tidak membuktikan kualitas diri dalam membahagiakan mahluk yang tercipta dari bagian tubuhnya (Rusuk) atau membuktikan apakah bisa meluruskan rusuk itu yang bengkok tanpa harus mematahkanya? atau... atau... atau... pikir aja sendiri yah, bisa mabok ntar klo terus ngetik atau-atau-atau..., sebelum beralih paragraf, maaf yah buat akh indra n afrijal yang jadi bulan bulanan di paragrap ini he...piiiiis.

Selain itu, Suasana Puncak dimalam hari yaitu kira-kira pukul 02:30 terasa fantastis, ditengah guyuran gerimis kami memacu kuda besi kami menyusuri hamparan aspal disaksikan rimbunan kebun teh yang tak jelas terlihat tertutup gelapnya malam dan diselubungi pekatnya kabut yang turun sampai-sampai jarak pandang kurang terlihat jauh akibat kabut yang menutupi puncak malam itu, seakan akan kalau aku amati sekeliling kami depan kanan kiri dan belakang laksana menaiki motor diatas awan, he... bukan lebay tetapi memang kalau disorot dengan lampu yang terang pasti akan terlihat kabut itu bagaikan asap bahkan ketika kuhirup dalam-dalam udara kala itu paru-paru terasa begitu dingin seakan-akan kabut itu menelusuk jauh kedalam rongga-rongga paru-paruku namun aku tidak melakukan itu terus, karena diingingatkan akh aziz karena udara malam dikhawatirkan mengakibatkan paru-paru basah apalagi  ditengah suhu yang dingin dan kabut yang pekat.



Kamipun sampai masjid at-Ta’awun kira-kira jam 2:30 malam, setelah memarkirkan motor kamipun segera menuju lt.2 masjid untuk mencari tempat merebahkan tubuh kami, tak banyak waktu yang kami miliki untuk beristirahat tak kurang dari 2 jam sebelum subuh, aku terus saja memejamkan mata untuk membantu melelapkan fikiran dari keterjagaan agar mimpi menggantikanya namun itu sepertinya sia-sia, aku sibuk untuk membolak-balik posisi tidurku karena kedinginan, mencoba mengurangi dingin dengan mempergilirkan bagian tubuh yang menapak ke lantai begitu tubuh mulai menggigil akupun merubah posisi, maklum saja puncak saat itu sangat dingin ditambah kami tak mendapati karpet untuk alas tidur padahal aku sudah mengenakan kaus kaki dan penutup kepala yang menjuntai menutupi telinga dan menyelimuti badan dengan 3 lapis pakaian tapi itu ternyata belum cukup untuk melindungi dinginya malam masuk ke tubuh melewati pori-pori.


‘Audzubillahiminasyathonirozim....
Suara Tilawah menyeruak menggatikan sunyinya malam, dalam hati aku berpikir ‘duh dah mau subuh mana belum tidur lagi...’
“Alif laaaaaammmmm......” dzalikal kitabu....

Sepertinya ada yang aneh dari lantunan tilawah itu? yah kok mimmmnya ga ada? padahalkan itu surat al-baqqarah? hm... aku yang salah dengar atau memang begitulah adanya? aku tidak tahu jawaban pertanyaan itu sampai aku membuat tulisan inipun belum terjawab pertanyaan itu, semoga saja aku yang salah dengar.

Akupun langsung membangunkan tubuhku dari pembaringan yang gagal menidurkanku, teman-teman lainpun telah terbangun, epertinya mereka juga susah tidur, kamipun segera turun untuk bersiap shalat. dinginya... air terasa bagaikan lelehan es apalagi ketika kupenuhi mulutku denganya ‘ngilu...’ dan sepertinya lubang-lubang kulitku juga membeku aku menyegerakan wudhuku karena memang dinginya air memaksaku untuk menyegerakanya tanpa mengurangi kesempurnaanya tentunya.

  
Setelah shalat, kami berkumpul didepan pintu ruang utama guna mengganjal perut dengan beberapa snack dan cemilan yang kami bawa; roti, coklat, madu sepertinya tidak cukup untuk mengenyangkan perut kami, tetapi lumayanlah untuk melindungi lambung kami agar tidak terisi angin yang dingin. selepas menghabiskanya seperti biasa kebiasaan anak depok yaitu menyebarkan teror wabah narsisme pun tak ketinggalan sudut-sudut ruang yang menarik serta unik menjadi korban kenarsisan. Jeprat-jepret entahlah berapa kali dilakukan lelah kalau harus menghitungnya, dari sekian banyak jepretan foto kala itu aku pikir ada satu yang seharusnya menjadi pemenang foto teraneh plus nyeleneh yaitu fotonya indra dengan pose akan memasukan lembaran uang 10 ribu ke kotak amal besar yang teronggok disamping pintu utama tentunya dengan gaya-gaya sok dermawanya plus ditambah dengan senyumnya yang melenakan kedalam jurang kepalsuan he...lebaay maaf ya ndra.(tak kasih bocoran neh, tapi jangan bilang siapa-siapa yah, janji ok, gini ternyata setelah foto selesai tuh duit tidak jadi masuk ke kotak amal tetapi masuk ke kekotak kantongnya. inget yah jangan bilang-bilang siapa-siapa!) dasar indra aneh bin nyeleneh bisa aja tingkahmu itu bikin dunia tambah aneh...he... bercanda bro indra just kiding.



Tidak sampai disitu saja, ternyata dengan menyebarkan wabah di teras mesjidpun belum mampu memuaskan para narsiser sehingga penyebaran teror wabahpun menjalar ke halaman masjid at-Ta’awun ternyata disitu terdapat lebih banyak korban; wajah masjid at-Ta’awun yang menawan, lembah-lembah hijau daun teh yang laksana karpet , serta bukit-bukit yang indah dengan hiasan putihnya kabut dipuncaknya semua menjadi jajahan para penebar virus narsisme dep..tiiiiit(sensor) he..., dan yang tak kalah menariknya adalah kala itu bulan masih bertengger dilangit dengan selimut cahaya yang masih terang bahkan ada satu rider yang mengiyakan ketika aku katakan bahwa itu matahari? dasar g dipikir dulu  apa yah mana mungkin matahari dah tinggi pagi-pagi gini, sebagai etika aku sembunyikan tersangkanya biar ini jadi rahasia kecil diantara kami he... so sweet, lebay mode on...



Setelah puas jeprat-jepret, walaupun tidak 100% puas karena memang kameranya kehabisan baterai jadi disudahi sesi pemotretanya, tapi syukurlah coba kalau baterainya masih penuh mau sampai kapan sesi pemotretanya kasihan kecapean nanti masjid, kebun teh, serta bukit-bukitnya meladeni kenarsisan kami (dep...tiiit(sesnsor lagi) takut ada yg ngamuk, bisa dikeroyok ntar he...) kayaknya mesti buat pasukan khusus pengawal presiden neh(paspamres) maksudnya pengawal aku kalau-kalau terjadi tindak kekerasan oleh-pihak-pihak yang merasa tersinggung oleh tulisan ini ha....

kamipun segera menuju pelatar parkiran dengan menuruni anak tangga yang bertingat dua, bergegas menyiapkan kuda-kuda kami serta menghangatkanya karena semalaman harus kedinginan. setelah dirasa cukup, maka kami bergegas meninggalkan masjid at-Ta’awun menyusuri sisa jalanan menanjak puncak sebelum tepat menuju puncak pas yang selepasnya turunanlah yang akan kami dapati, dan sebelumnya kamipun berpamitan mengucap salam perpisahan dengan akh Fikri yang harus pergi menuju jakarta karena ada agenda disana.

Kamipun memacu kuda besi kami menuju cianjur dengan tujuan Tasikmalaya, akupun melanjutkan perjalanan tanpa ditemani tudung kepalaku karena raib selepas sesi pemotretan tadi, tapi sudahlah usaha untuk mencari sudah dilakukan namun takdir menentukan lain.

Kamipun memulai Track yang sesungguhnya yaitu langsung menuju ke Tasik tanpa harus menginap ditempat lain kecuali tasik, kabut yang menipis masih bisa melepas kepergian kami meninggalkan puncak sedangkan matahari malu-malu untuk melepas kepergian kami hanya sayup-sayup cahayanya yang sedikit mengurangi dingin yang menerpa tubuh kami.


Puncak Idamanku

Puncak...
Malam ini engkau tak ramah terhadapku
Dinginya sikapmu membuatku tak bisa tidur, resah dan gundah
Bahkan Anggunya at-Ta’awunpun tak bisa meninabobokan aku
Mungkin engkau merajut karena aku hanya sebentar mengunjungimu
Janganlah begitu
Bukankah engkaulah pegunungan yang tersering didunia ini yang kukunjungi
Engkaulah saksi jalan Tarbiyahku
Dan Engkaulah Yang menghiburku dikala kejenuhan dan letih perjalanan liburanku
Dulu....dulu dikala aku masih kecil
Setahun sekali aku melewatimu dengan tunggangan besi yang mengantarku
Engkau telah memikatku, menawan hatiku sedari dulu
Dulu...dulu dikala aku masih kecil
Sehingga akupun sulit mencintai gunung-gunung lainya
Padahal sesungguhnya mereka lebih indah darimu
dan sepertinya engkau telah mencuri hatiku
Sedari dulu
Ketika liburan sekolahku
Akupun liburan kejakarta terlebih dahulu mengunjungimu
Masih ingat dalam ingatanku
Tatkala aku berada dipundakmu, sinar matahari menyinarimu
Dengan cahaya jingganya dan keemasanya memikat hatiku
membuatmu bersinar laksana dewi dari kayangan
Matahari menatapku diujung sana dengan memerah kepadaku
Karena aku lebih terpikat kepadamu
Dikala aku berada dalam bus yang mengantarkan aku
Engkau suka mengayunku kekanan dan kiri dengan kelokanmu
Engkau Ayunkan aku keatas dan kebawah dengan Tanjakan dan Turunanmu
Hatikupun Senang setiap kutemui kau, akupun menanti ayunanmu
Itu Dulu.... Sekarang kenangan itu masih tak layu
Segar dalam ingatanku walaupun itu Dulu...
Dulu...dulu dikala aku masih kecil
Ku harap sikapmupun tetap sama
Dan akupun masih mengagumimu
Dengan segala apa yang ada padamu
Walaupun Ayunan itu sulit tuk kudapatkan
Karena kepadatan pengagummu
Sehingga Kelokanmu tak mampu mengayunku
Inilah puisi yang kutujukan untukmu
Karena kegundahanku dimalam itu
Aku takut kau merubah dihadapanku
Tak seperti dulu...
Bahkan menantangnya malangbongpun tak mampu memalingkan aku
Itulah janjiku.... asal kau tak merubah sikapmu
Kepadaku oh Puncaku
Semoga namamu mengejawantahkan impian dan harapanku
Menanjak memuncak... menuju Puncak
Menuju puncak kebaikan hidupku
Tuk bekal menemui pengutusku
Ya Rabbal ‘alamin.


To be Continue ...Road to Bandung 

4 komentar:

  1. Super...
    lanjutkan gan..!!!

    BalasHapus
  2. Ditunggu versi bukunya...!!!

    BalasHapus
  3. Versi berikutnya dah ada cuman sengaja tidak publikasi dulu, nanti biar lounchingnya sekalian semua. Biar surprise sama biar masuk ke badan sensor dulu. Tinnggal perjalanan dari tasik ke jakarta neh yg belum

    BalasHapus